Ikamaru Jakarta Genjot Pengajian Kitab Kuning
By Unknown 19.18 Kabar Ikamaru
![]() |
| Anggota Ikamaru Jakarta sedang mengaji kitab Ta'limul Muta'alim, Sabtu (12/09). |
Demi menjaga dan
melestarikan budaya keilmuan pesantren, Ikatan Alumni Madrasah Raudlatul Ulum
(Ikamaru) Jakarta menggelar pengajian kitab kuning setiap hari. Hal ini dirasa
perlu lantaran di kampus tak diajarkan pengajian kitab kuning dengan model
pembelajaran ala pesantren.
Menurut
koordinator kajian, Ahmad Chabib Ainul Muharror, sudah seminggu ini Ikamaru
Jakarta mengaji kitab Tafsir Yasin, Ta’limul
Muta’alim, Imrithy dan Kailany. “Khusus
untuk Kitab Ta’limul Muta’alim, pengajian
dilaksanakan setiap ba’da salat maghrib di Basecamp Ikamaru Jakarta. “Alhamdulillah
sejauh ini banyak anggota yang ikut mengaji,” tambahnya, Sabtu (12/09).
“Di kampus,
anggota Ikamaru Jakarta mungkin mempelajari beberapa kitab kuning. Namun,
sistem pembelajarannya sedikit berbeda dengan gaya pengajaran di pesantren.
Maka, kami membuat terobosan menggunakan sistem bandongan semi diskusi. Dengan
demikian, semua santri tak hanya mendengarkan dan lebih aktif,” jelas Chabib.
Selain mengaji
kitab kuning, lanjut Chabib, pengurus juga akan mengadakan pelatihan
jurnalistik. “Semua anggota Ikamaru Jakarta harus bisa menulis, supaya tidak
hilang dari pusaran sejarah,” katanya sambil terkekeh.
Seminggu mengaji
terasa sudah manfaatnya. Seperti yang diungkapkan Anggota Istimewa Ikamaru
Jakarta (AIIJ; anggota yang bukan alumni Pesantren Raudlatul Ulum), Aminuddin,
baginya pengajian tersebut semakin membuat dirinya mengerti dan memahami kitab
kuning. “Saya sama sekali tak pernah hidup di pesantren dan belajar kitab-kitab
seperti ini (kitab kuning), alhamdulillah setelah bergabung dengan Ikamaru
Jakarta, saya sedikit tahu dan semakin lancar membaca Alquran atau tulisan Arab
gundul,” ungkapnya.
Saat berita ini
diterbitkan, anggota Ikamaru, baik putra atau putri, tengah khidmat mengaji
kitab Ta’limul Muta’alim.
Anis Sanjaya
Ikamaru Jakarta Meruwat dan Merawat Kajian Ilmu Alat
By Unknown 21.22 Kabar Ikamaru
“Kalamuhum
lafdun mufidu musnadu # Wakilmatul lafdu mufidu mufrodu....” arek-arek Ikamaru Jakarta
bersemangat setengah berteriak melafalkan nadham Imrithy di Basecamp Ikamaru. Semangatnya
bak tentara yang tengah menyanyikan yel-yel kemenangan.
Setengah jam
sebelumnya, lafal tahlil dan lantunan Albarzanzi mengawali kegiatan Kamisan ikatan alumni Pesantren
Raudlatul Ulum Pati itu. Kini, setelah melaksanakan jama’ah maghrib, semua duduk
khidmat memerhatikan Ust. Poer yang tengah menarikan spidol pada white board yang tak putih lagi.
Sesekali mereka guyonan sembari
menunggu Ust. Poer memenuhi papan tulis dengan beberapa bait Imrithy.
“Ayo
bersama-sama dibaca,” Ujar pemuda nahdliyin yang lebih sering disapa Gus Poer
daripada Ustadz Poer. Sentak, seisi ruangan membaca tulisan Arab yang
terpampang di white board. Beberpa saat
kemudian, Gus Poer memaknai kata perkata dengan bahasa Jawa dan menerangkan
dengan gayanya yang khas dan mudah dimengerti.
Begitulah
kurang lebih gambaran Pengajian Kamisan bertema “Ikamaru Jakarta Meruwat Ilmu
Alat”, yang baru kali pertama digelar di Basecamp Ikamaru Jakarta. Meski seharian
menimba ilmu di kampus serta tahlilan
dan berjanjenan mengiringi matahari
kembali ke peraduan, tak satu pun arek-arek Ikamaru Jakarta yang
menampakkan raut bosan menyimak penjelasan Gus Poer. Sebaliknya, mereka seakan
haus ilmu, seperti hausnya para Sahabat yang mengarungi gurun pasir gersang.
Ilmu Alat
(disiplin ilmu untuk memaknai dan memahami literatur berbahasa Arab), bagi arek-arek Ikamaru, perlu dipelajari,
dipahami dan dikuasai sebagai dasar untuk memelajari Alquran, hadis dan
kitab-kitab kuning. “Nahwu dan Sharaf adalah dua disiplin ilmu yang harus
dikuasai kaum bersarung. (minimal) Dengan menguasai keduanya, kita bisa membaca
literatur berbahasa Arab. Tentunya Alquran yang menjadi pedoman umat Islam,”
terang Gus Poer.
“Ikamaru
Jakarta atau Ikamaru dimanapun berada harus selalu merawat apa yang telah diajarkan
di pesantren dulu. Alhamdulillah, hingga saat ini anak-anak Ikamaru Jakarta
semangat dalam menjaga nilai-nilai santri. Inilah yang membanggakan dan
(mungkin) harapan para Yai (Kiai) yang telah mengajarkan berbagai hal,” jelas
Gus Poer.
Di tengah
gemuruh knalpot pengendara motor yang lalu lalang melewati Basecamp Ikamaru
Jakarta, Ketua Ikamaru Jakarta yang paling fenomenal, Sugeng Riyadi
mengungkapkan bangganya. “Alhamdulillah tsumma
alhamdulillah yang senantiasa saya ucapakan tatkala melihat semua anggota tampak
bergairah dalam belajar seperti ini. Semoga hal-hal seperti ini terus berlanjut
hingga kiamat,” tambahnya.
Selain itu,
menurut Jembit, sapaan akrab Riyadi, pengurus Ikamaru Jakarta juga akan
menggelar pengajian kitab Tafsir Yasin
di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta minimal seminggu sekali. Baginya, hal
itu adalah langkah konkrit dalam menjaga dan mengaplikasikan apa yang telah
didapat dari pesantren dulu.
“Saya punya
mimpi, jika Formaci, LS-ADI, dan lembaga lainnya memunyai ciri khas tersendiri,
suatu saat nanti jika Ikamaru Jakarta terdengar di telinga orang, maka yang ada
di benak meraka adalah sebuah lembaga yang getol mengkaji keilmuan pesantren.
Semoga Allah senantiasa menjaga semnagat kawan-kawan dalam mengabdi kepada
kiai,” pungkas Jembit.
Nur Lailatun
Ni’mah
Ziarah, Salah Satu Cara Ikamaru Jakarta Merawat Tradisi NU
By Unknown 22.19 Kabar Ikamaru
![]() |
| Ikamaru Jakarta sedang berziarah di Makam Kiai Wahab Hasbullah, Tambak Beras, Jombang (25/7). |
Ikamarujakarta.com— Menjelang
Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Ikatan
Keluarga Alumni Madrasah Raudlatul Ulum (IKAMARU) Cabang Jakarta dan Sekitarnya
menggelar acara ziarah di beberapa makam para tokoh pendiri NU, seperti Kiai
Hasyim Asyari Tebu Ireng, Kiai Wahab Hasbullah Tambak Beras, dan Bisri Syansuri
Denanyar, Jombang, Sabtu (25/7).
Selain niat ngalap
berkah dan mengisi masa libur, acara itu dimaksudkan untuk menjaga,
mengingat, dan meneruskan semangat juang para guru bangsa untuk menciptakan Islam
rahmatallilalmin dan Indonesia yang baldatun tahyyibatun wa rabbun
gahafur.
“Sebagai santri
Guyangan, kita mempunyai kewajiban untuk terus mengingat serta meneruskan ajaran
para kiai yang telah berjuang melawan penjajah, dan tentunya ikut ngurip-ngurip
tradisi beserta budaya Nahdlatul Ulama yang sudah sekian lama lestari di
Indonesia,” ujar sesepuh Ikamaru Jakarta sekaligus pemimpin rombongan
ziarah, Muhammad Sofwan.
Menurut lelaki
yang kini menjadi staf ahli salah satu anggota DPR-RI itu, generasi pesantren
seperti Ikamaru harus menjadi pionir dalam menciptakan kondisi sosial antar
umat yang harmonis. “Tidak ada lagi kekerasan mengatasnamakan agama. Makanya,
dengan ziarah seperti ini, semoga kita
dapat menyontoh para ulama yang luar biasa integritasnya dan mengajak kebaikan
dengan cinta, bukan senjata,” tambahnya.
Selain itu, di
era internet ini, menurut Sofwan, pemuda nahdliyin harus bisa beradaptasi dan
memanfaatkannya sebaik mungkin untuk kepentingan bangsa dan agama, tanpa
menghilangkan tradisi baik yang sudah ada. Hal tersebut ia nukil dari prinsip
yang dianut kaum NU, almuhafadotu ala qodim assholih, wal ahdu aljadid
alaslah.
Senada dengan
Sofwan, salah satu anggota Ikamaru Jakarta yang turut serta berziarah, Muhammad
Fahdi, mengaku senang dengan kegiatan spontanitas seperti
itu. Ia banyak belajar dari para tokoh yang diziarahi. “Kiai NU itu
woles. Hampir kesemuanya tak kaku dalam beragama, menghormati perbedaan, dan
yang terpenting nasionalis,” jelasnya.
“Bangsa yang
besar adalah bangsa yang tak melupakan sejarah dan pahlawannya,” ujar Muham menirukan
Bung Karno. Bagi Pimpinan Patuna Cabang Pati tersebut, berziarah sama halnya
dengan mengingat pahlawan dan sejarahnya. Baginya, mempelajari tokoh berarti
mempelajari sejarah.
“Sebentar lagi
Muktamar NU ke-33. Sudah saatnya, meski tidak berada dalam kepengurusan, kita
sebagai pemuda harus senantiasa ikut serta membesarkan nama NU. Karena, menurut
Gus Dur, tanpa NU Indonesia ini jadi apa? Menjaga tradisi NU berarti ikut serta
membesarkan nama NU. Jika nama NU besar, maka bangsa ini ikut besar,” tutupnya.[] (Lala)
Expo Nusantara sebagai Jembatan Motivasi
By Unknown 11.44 Kabar Ikamaru
“Berdiri Kita untuk Mengabdi, Bersama Kita Saling Berbagi”, bgitulah tema expo kampus
nasional 2013 di pesantren Raudlatul Ulum, Guyangan, Trangkil, Pati beberapa
waktu lalu. Acara yang diselenggarakan selama tiga hari (24-26 April) tersebut sebagai ajang untuk memotivasi dan berbagi
informasi tentang kampus kepada santri Raudlatul Ulum yang telah selesai
melaksanakan UN.
Expo
Nusantara ini dihadiri beberapa kampus besar di seluruh Indonesia, tentunya
yang di dalamnya terdiri dari para alumni, seperti IKAMARU Jakarta, Jogja,
Semarang dan masih banyak kampus lainnya. Jarak seakan tak menjadi penghalang
bagi mereka untuk berbagi pengalaman. Hal ini bisa dilihat dari para alumni
yang dengan sukarela meniggalkan mata kuliah demi menghadiri acara expo.
Kerja
sama serta optimisme para panitia serta rekan lainnya menjadi landasan dasar kesuksesan
acara ini. Bukan sekedar panitia dan para alumni, apresisasi dari pengasuh
pesantren, asatid, serta para santri,
khususnya santri yang lalu lalang mengunjungi stand dari pagi hingga petang juga menjadi indikator kesuksesan
acara.
Ketua Expo Nusantara, Muhammad Baihaqi, mahasiswa
UIN Walisongo yang tergabung dalam IKAMARU Semarang, mengatakan, selain untuk
ajang motivasi, acara ini juga dilaksanakan dengan tujuan kumpul dan temu
kangen seluruh cabang IKAMARU yang tersebar di seluruh pelosok negeri. “Expo
juga merupakan suatu bentuk pengabdian kami (Alumni) kepada para kiai serta
para guru,”tambahnya, Sabtu, (25/04).
Muhammad Najib
Suyuthi (selaku pengasuh pondok pesantren) menambahkan, acara expo yang digelar
IKAMARU Nusantara ini sangat bermanfaat, baik untuk kelas tiga Madrasah Aliah
(MA) yang sebentar lagi lulus maupun kelas satu dan dua yang masih lama.
Menuurut beliau, dengan adanya expo semua santri bisa dengan mudah menggali
informasi dunia perkuliahan.
Yi Najib (sapaan akrab beliau)
menambahakan, pihaknya berjanji akan membagi informasi yang ada di RU kepada
seluruh alumni yang tergabung dalam IKAMARU. “Kalian (IKAMARU) berhak tahu
tentang madrasah kita ini, karena kita semua adalah keluarga,” ungkapnya.
Terkait masalah expo, salah satu
santri yang baru saja diwisuda, Vivi Fitriani, mengaku senang dengan acara expo
tersebut. Pasalnya, ia bisa dengan leluasa menanyakan perihal kampus yang
telah diidam-idamkan. Ia juga berharap, acara ini terus diadakan setiap
tahunnya, “Tidak hanya tahun ini saja, tapi untuk seterusnya juga,”ungkapnya, Minggu, (26/04).










